Sabtu, 29 Agustus 2015

RIAM BATU TIMAH



Riam Batu Timah
Riam batu timah merupakan sebuah objek wisata air terjun yang berada di desa madi, kecamatan lumar kabupaten bengkayang Kalbar. Riam batu timah bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dengan waktu kurang lebih 45 menit dari pusat ibu kota kabupaten bengkayang. Jika menggunakan roda empat atau mobil memerlukan waktu sedikit lebih lama dikarenakan medan yang ditempuh agak sedikit menyulitkan, dan ketika sudah sampai di desa madi maka hanya bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan.
Riam batu timah ini memiliki air terjun yang tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 3 meter. Namun hal itu sudah memberikan keindahan pada riam batu timah ini. Kemudian yang lebih asyiknya lagi di bawah air terjun tersebut ada batu yang curam dan dialiri air yang akhirnya dijadikan orang-orang sebagai tempat seluncuran. Dan itulah mengapa tempat tersebut dinamakan riam batu timah. Selain itu keadaan hutan yang masih rindang dan alami menambah keasrian dari tempat wisata ini. Sehingga tempat ini cocok dijadikan sebagai tempat berwisata disebabkan suasananya yang nyaman.
Riam batu timah banyak dikunjungi pada saat libur atau akhir pekan. Sebagian yang datang ada yang hanya sekedar ingin mandi dan ada juga yang berburu foto karena memang tempatnya yang keren. Jadi tunggu apalagi? Sangat rugi jika tidak pernah merasakan pergi ke riam batu timah untuk merasakan sensasinya.





DOYOT



Doyot
            Doyot merupakan sebuah kampung yang ada di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Bengkayang. Doyot masih berstatus dusun yang berada dalam lingkup desa Magmagan Karya, Kecamatan Lumar. Lokasinya kira-kira 12 Km ke utara dari pusat ibu kota kabupaten dan bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat karena lokasinya yang memang ada di jalan Sanggau Ledo yang merupakan jalan raya di Kabupaten Bengkayang.
Jumlah penduduk di Doyot tidak begitu banyak, hanya sekitar 100 KK dan mayoritas Islam. Doyot merupakan satu-satunya perkampungan yang 95% penduduknya muslim di Kecamatan Lumar sebab kebanyakan di daerah Kabupaten Bengkayang didominasi Non-Muslim. Penduduk yang non-muslim di Doyot juga kebanyakan pendatang. Oleh karena itu jika ada kegiatan keagamaan yang sifatnya kecamatan biasanya dipusatkan di Doyot. Masjid di Doyot bernama Masjid Nurul Falah.
Sejarah adanya kampung Doyot adalah pada zaman dahulu ketika daerah Bengkayang masih dikuasai oleh kerajaan Sambas, sering sekali kerajaan mengirim utusan untuk mengambil upeti di daerah Bengkayang. Namun setiap kali mereka pergi mereka tidak pernah kembali lagi ke kerajaan. Ada dugaan yang mengatakan bahwa semua utusan yang dikirim tersebut telah dibunuh oleh penduduk setempat sehingga tidak ada satupun yang kembali. Kemudian kerajaan mengutus seorang Patih untuk menyelidiki apa yang terjadi. Nama Patih itu adalah Raden Ganong. Setelah Raden Ganong tiba, dia langsung membuat semacam tempat persinggahan di sebuah hutan yang kelak menjadi Kampung Doyot ini. Untuk memudahkan penyelidikan maka Raden Ganongpun berbaur dengan masyarakat setempat dan hingga akhirnya dia menikah dan menghasilkan keturunan yang sekarang akhirnya menjadi sekumpulan penduduk Doyot. Lalu seiring berjalannya waktu, sebagian orang mulai berdatangan dan bermukim di Doyot dan jadilah hingga sekarang ini.
Mata pencaharian utama masyarakat Doyot adalah petani. Bidang pertanian yang menjadi komoditi utama adalah karet. Ada juga yang bertani padi, jagung, dan sekarang sudah mulai ramai yang berganti menjadi bertani sawit. Hal ini dikarenakan masih banyak lahan dan hutan yang bisa dijadikan sebagai lahan pencaharian di Doyot.
Di Doyot masih sangat memegang erat persatuan dan kesatuan sesama penduduk. Hal ini bisa dilihat jika ada acara besar seperti lebaran, pernikahan, ruwahan dan selamatan. Gotong royong semua penduduk masih jelas terlihat ketika ada acara besar seperti itu. Apalagi di saat acara pernikahan, semua penduduk berkumpul dan bekerja bersama dalam menyiapkan acara. Kemudian ada kebiasaan unik di Doyot setiap ada acara pernikahan yaitu selalu menebang satu pohon kelapa yang nantinya akan difungsikan dalam acara pernikahan. Daunnya dipakai untuk menghias tarub (sebutan untuk tenda atau tempat orang duduk dan berkumpul dalam acara pernikahan, tapi bukan pelaminan) dan janur, buahnya dipakai untuk memasak, dan ada makanan khas yang dimasak ketika ada acara pernikahan ini yaitu embut kelapa. Makanan ini berbahan dasar embut kelapa dari kelapa yang ditebang tadi. Embut kelapa merupakan bagian yang ada di puncak batang dan di pangkal daun. Selain embut kelapa, di Doyot juga masih ada makanan khas lain seperti Sayok Tengkuyong dan Kalimange’.
Itulah sekilas tentang tanah kelahiran penulis yang penulis dedikasikan untuk tanah kelahiran penulis sendiri yang tujuannya tidak lain tidak bukan adalah agar banyak orang yang lebih mengetahui tentang Doyot. Terima Kasih...