Doyot
Doyot merupakan sebuah kampung yang
ada di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Bengkayang. Doyot masih
berstatus dusun yang berada dalam lingkup desa Magmagan Karya, Kecamatan Lumar.
Lokasinya kira-kira 12 Km ke utara dari pusat ibu kota kabupaten dan bisa
ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat karena lokasinya yang
memang ada di jalan Sanggau Ledo yang merupakan jalan raya di Kabupaten
Bengkayang.
Jumlah penduduk di
Doyot tidak begitu banyak, hanya sekitar 100 KK dan mayoritas Islam. Doyot
merupakan satu-satunya perkampungan yang 95% penduduknya muslim di Kecamatan
Lumar sebab kebanyakan di daerah Kabupaten Bengkayang didominasi Non-Muslim.
Penduduk yang non-muslim di Doyot juga kebanyakan pendatang. Oleh karena itu
jika ada kegiatan keagamaan yang sifatnya kecamatan biasanya dipusatkan di
Doyot. Masjid di Doyot bernama Masjid Nurul Falah.
Sejarah adanya
kampung Doyot adalah pada zaman dahulu ketika daerah Bengkayang masih dikuasai
oleh kerajaan Sambas, sering sekali kerajaan mengirim utusan untuk mengambil
upeti di daerah Bengkayang. Namun setiap kali mereka pergi mereka tidak pernah
kembali lagi ke kerajaan. Ada dugaan yang mengatakan bahwa semua utusan yang
dikirim tersebut telah dibunuh oleh penduduk setempat sehingga tidak ada
satupun yang kembali. Kemudian kerajaan mengutus seorang Patih untuk
menyelidiki apa yang terjadi. Nama Patih itu adalah Raden Ganong. Setelah Raden
Ganong tiba, dia langsung membuat semacam tempat persinggahan di sebuah hutan
yang kelak menjadi Kampung Doyot ini. Untuk memudahkan penyelidikan maka Raden
Ganongpun berbaur dengan masyarakat setempat dan hingga akhirnya dia menikah
dan menghasilkan keturunan yang sekarang akhirnya menjadi sekumpulan penduduk
Doyot. Lalu seiring berjalannya waktu, sebagian orang mulai berdatangan dan
bermukim di Doyot dan jadilah hingga sekarang ini.
Mata pencaharian
utama masyarakat Doyot adalah petani. Bidang pertanian yang menjadi komoditi
utama adalah karet. Ada juga yang bertani padi, jagung, dan sekarang sudah
mulai ramai yang berganti menjadi bertani sawit. Hal ini dikarenakan masih
banyak lahan dan hutan yang bisa dijadikan sebagai lahan pencaharian di Doyot.
Di Doyot masih
sangat memegang erat persatuan dan kesatuan sesama penduduk. Hal ini bisa
dilihat jika ada acara besar seperti lebaran, pernikahan, ruwahan dan
selamatan. Gotong royong semua penduduk masih jelas terlihat ketika ada acara
besar seperti itu. Apalagi di saat acara pernikahan, semua penduduk berkumpul
dan bekerja bersama dalam menyiapkan acara. Kemudian ada kebiasaan unik di
Doyot setiap ada acara pernikahan yaitu selalu menebang satu pohon kelapa yang
nantinya akan difungsikan dalam acara pernikahan. Daunnya dipakai untuk
menghias tarub (sebutan untuk tenda atau tempat orang duduk dan berkumpul dalam
acara pernikahan, tapi bukan pelaminan) dan janur, buahnya dipakai untuk
memasak, dan ada makanan khas yang dimasak ketika ada acara pernikahan ini
yaitu embut kelapa. Makanan ini berbahan dasar embut kelapa dari kelapa yang
ditebang tadi. Embut kelapa merupakan bagian yang ada di puncak batang dan di
pangkal daun. Selain embut kelapa, di Doyot juga masih ada makanan khas lain
seperti Sayok Tengkuyong dan Kalimange’.
Itulah sekilas
tentang tanah kelahiran penulis yang penulis dedikasikan untuk tanah kelahiran
penulis sendiri yang tujuannya tidak lain tidak bukan adalah agar banyak orang
yang lebih mengetahui tentang Doyot. Terima Kasih...
hallo...
BalasHapussalam kenal
bagaimana kabar sungai sedate sekarang ??
saya dan keluarga pernah transmigrasi di daerah magmagan,
sekitar tahun 1990.
sekarang daerah tersebut sudah tak ada ya?
Mantap, salam kenal.
BalasHapusSaya punya kawan namanya suherman biasa dipanggil bujang, asli kampung doyot.
Boleh kalik betanya, apa artinya doyot.
Terima kasih.